Istidraj Bagi Orang-Orang Yang Zalim
Allah SWT murka kepada orang yang berbuat zalim. Baik zalim kepada dirinya sendiri yaitu dengan berbuat mungkar dan maksiat, terlebih-lebih lagi zalim kepada orang lain. Allah Yang Maha Adil pasti akan menghukum orang yang zalim tersebut. Ada yang langsung dihukum dan ada yang ditunda hukumannya.
Allah SWT sudah menegaskan bahwa orang yang zalim pasti akan dihukum, baik di dunia maupun akhirat. Meskipun Allah menunda siksaan-Nya untuk memberi kesempatan bertaubat, tetapi ketika tiba waktunya, azab-Nya sangat pedih dan tak terelakkan. Pada hari itu orang zalim akan kehilangan pertolongan Allah.
Perhatikan Firman Allah SWT di Surah Ibrahim ayat 42:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ ەۗ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَبْصَارُۙ ٤٢
Artinya : "janganlah engkau mengira bahwa lengah terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zalim, sesungguhnya Allah hanya menangguhkan sisksaan atas mereka hingga tibanya hari yang pada waktu itu mata-mata mereka terbelalak, saat itu mereka datang tergesa-gesa dengan mengangkat kepala mereka, sementara mata mereka tidak berkedip dan kalbu mereka kosong."
Hukuman tersebut sengaja Allah kabarkan sebagai peringatan bagi orang yang zalim, supaya orang zalim tersebut bertaubat, kembali kepada-Nya dan berhenti melakukan kezaliman dan akhirnya terhindar dari neraka.
Hukuman Allah SWT ada 2 macam:
1. Bala'. Hukuman berupa kesusahan, kesempitan dan kekurangan.
2. Istidraj. Hukuman berupa kemudahan, kelapangan dan kecukupan.
Istidraj adalah jebakan dunia yang terlaknat, berupa limpahan kenikmatan duniawi (misalnya: harta, kesehatan, jabatan), yang Allah berikan kepada:
1. Orang yang zalim.
2. Orang yang terus-menerus bermaksiat.
3. Orang yang lalai beribadah.
Istidraj ini adalah bentuk murka halus di mana azab ditunda. Efeknya membuat orang yang zalim merasa aman dan semakin jauh dari Allah, hingga akhirnya tiba-tiba Allah turunkan siksaan-Nya.
Sebagai contoh. Kalau anda melihat orang-orang yang terlibat dalam Operasi Delima hidupnya tenang-tenang saja, maka dapat dipastikan itu adalah istidraj.
Operasi Delima ini melibatkan Presiden, BIN, POLRI dan TNI. Operasi Delima ini telah menyebabkan terjadinya Pelanggaran HAM Berat berupa Tragedi Kemanusiaan KM50. Dimana 6 orang santri pengawal ulama disergap di tengah jalan. Diculik lalu disiksa dengan sadis di luar batas perikemanusiaan. Setelah tewas, lalu difitnah habis-habisan untuk kemudian direkayasa pengadilan dagelan.
Operasi Delima ini adalah kezaliman yang nyata dari pemerintahan jokowi. Allah SWT murka. Sebab itu Allah SWT pasti menghukum semua yang terlibat dalam Operasi Delima tersebut. Dari aktor intelektual sampai eksekutornya, pasti akan mendapatkan hukuman. Baik hukuman langsung maupun hukuman tunda. Baik berupa bala' musibah maupun berupa istidraj.
Dalam Surah Annisa ayat 93, hukuman Allah bagi semua yang terlibat dalam Operasi Delima tersebut sangat jelas (muhkamat), yaitu:
1. Sudah dijamin akan kekal di jahanam. Bayangkan saja (bagi mereka yang masih hidup), masih hidup tetapi sudah dijamin akan kekal di jahanam.
2. Mendapat kemurkaan dan laknat Allah dari dunia sampai akhirat. Bayangkan saja (bagi mereka yang masih hidup), mereka hidup dalam naungan murka dan laknat Allah SWT.
3. Dijanjikan akan mendapat adzab (siksaan) yang sangat besar. Tentu saja siksaan ini bukan hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Bayangkan (bagi mereka yang masih hidup), hidup sambil menunggu datangnya azab yang besar yang kapan saja bisa datang.
Lihatlah betapa sangat tidak nyamannya hidup mereka (semua yang terlibat dalam Operasi Delima). Sebab itu janganlah kita berbuat zalim.
Perhatikan baik-baik apa yang termaktub dalam QS. Annisa ayat 93:
وَمَنْ يَّقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاۤؤُهٗ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيْهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهٗ وَاَعَدَّ لَهٗ عَذَابًا عَظِيْمًا ٩٣
Artinya: "Barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya adalah (neraka) Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, melaknatnya, dan menyediakan baginya azab yang sangat besar."
Ciri-Ciri Istidraj:
1. Rezeki lancar dan berlimpah meskipun zalim, jarang beribadah dan sering maksiat.
2. Hidup terasa tenang dan jarang ditimpa musibah/sakit, padahal sering berbuat dosa.
3. Lupa kepada Allah Pemberi Rezeki sehingga merasa dan menganggap kesuksesan hasil usaha sendiri, bukan karunia Allah.
4. Hati mati, yaitu tidak ada rasa sedih saat meninggalkan ketaatan dan tidak menyesal apabila berbuat zalim dan bermaksiat.
Dalil dan Cara Menghindar:
Istidraj dijelaskan dalam QS. Al-An'am: 44, QS. Al-A'raf: 182, dan QS. Ali 'Imran: 178.
Cara menghindarinya adalah dengan:
1. meningkatkan ketaatan
2. memperbanyak istighfar
3. bersyukur atas nikmat
4. menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya pada materi.
Semoga kita sehingga terhindar dari berbuat zalim, bermaksiat kepada Allah, dan melakukan perbuatan mungkar. Aamiin.