Kebebasan Sejati

Table of Contents

Kebanyakan manusia menduga status sosial (jabatan) adalah kekuatan yang dapat mendorong manusia untuk menjadi penguasa. Sehingga kebanyakan manusia menduga bahwa seorang raja itu kuat dan seorang budak itu lemah.

Tetapi Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa, bukan status sosial yang punya kekuatan untuk mendorong seseorang menjadi penguasa. Melainkan hawa nafsu dan kesabaran.

Imam Al-Ghazali berkata, "Hawa nafsu bisa membuat seorang raja menjadi budak. Sementara kesabaran bisa membuat seorang budak menjadi raja."

Hawa Nafsu Membuat Raja Menjadi Budak

Sekarang kita bayangkan, seseorang yang punya jabatan tinggi, harta, dan kuasa. Tapi dia tidak bisa menahan keinginan hawa nafsunya. Ia haus pujian, gila kekuasaan, dan tidak tahan godaan. Pada akhirnya, dia tidak lagi memimpin, jangankan orang lain, dirinya sendiripun gagal dia kendalikan.

Dia dikendalikan. Hawa nafsu menjadi tuan-nya, dan dia hanya manjadi budak dari keinginannya sendiri. Secara status memang dia raja, tapi secara batin dia terjajah. Dia budak dari hawa nafsunya sendiri.

Sabar Membuat Budak Menjadi Raja

Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana, bahkan tertekan oleh keadaan, tapi dia sabar (mampu menahan diri, tidak bereaksi negatif dan pandai mengontrol emosi) maka dia termasuk orang yang kuat dan merdeka. Hawa nafsu ditundukkannya. Dia punya kendali penuh atas dirinya.

Ketahuilah, dalam hidup ini, siapa yang mampu mengendalikan diri, dialah yang sebenarnya berkuasa. Dia lah Raja yang sesungguhnya.

Sabar di sini bukan berarti pasif, menyerah kalah begitu saja. Tapi sabar yang dimaksud adalah kemampuan menahan diri, memilih, dan tetap teguh, kuat dan pantang mengeluh di saat keadaan tidak berpihak kepadanya.

Sering kita saksikan, banyak orang yang terlihat sukses, tapi hidupnya dikendalikan gengsi, validasi, dan keinginan sesaat. Tetapi di sisi lain, kita juga sering melihat, ada orang yang hidupnya biasa saja, tapi tenang, terarah, dan tidak mudah goyah.

Kebebasan sejati bukan soal punya segalanya, tapi soal tidak diperbudak oleh siapapun dan oleh apapun, termasuk tidak diperbudak oleh (hawa nafsu) diri sendiri.