Tiga Level Silaturahmi
Memahami Tingkatan Silaturahmi.
Oleh: Syawaldin Ridha
Silaturahmi bukan sekadar berkunjung atau bertegur sapa. Dalam Islam, nilai dari sebuah amal sangat bergantung pada niat yang mendasarinya. Berikut adalah klasifikasi silaturahmi berdasarkan motivasi pelakunya:
Level 1: Silaturahmi Pragmatis (Level Terendah)
Pada level ini, seseorang menjalin hubungan karena adanya motif keuntungan duniawi secara langsung. Fokus utamanya adalah "apa yang bisa saya dapatkan?" baik berupa harta, proyek, pinjaman, atau fasilitas tertentu.
Karakteristik: Hanya mendatangi orang yang dianggap "menguntungkan" dan menjauhi mereka yang sedang kesulitan atau dianggap tidak memberi manfaat materi.
Meski silaturahmi ini tetap sah secara sosial, namun nilainya sangat rendah di mata Allah karena bersifat transaksional.
Level 2: Silaturahmi Validasi (Level Menengah)
Motivasi pada level ini adalah pencitraan diri. Seseorang rajin bersilaturahmi agar dianggap sebagai sosok yang saleh, ramah, rendah hati, atau agar memiliki reputasi sosial yang baik di mata masyarakat.
Karakteristik: Sangat memperhatikan etika di depan umum, namun tujuannya adalah pengakuan (riya) dan pujian manusia.
Resiko: Jika tidak mendapatkan pujian atau sambutan yang hangat, pelaku silaturahmi level ini biasanya akan merasa kecewa atau berhenti melakukannya.
Hati-hati dengan niat yang bercampur dengan keinginan dipuji (riya), karena Allah hanya menerima amal yang ikhlas. "Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya..." (HR. Bukhari dan Muslim). “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An'am: 162).
Level 3: Silaturahmi Ideologis (Level Tertinggi)
Inilah level para Nabi dan pejuang dakwah. Silaturahmi dilakukan bukan untuk meminta sesuatu atau ingin dipuji, melainkan sebagai sarana Dakwah Islam. Tujuannya adalah untuk menyatukan barisan umat, menyampaikan kebenaran, dan berupaya mengubah peradaban menuju tatanan yang diridhai Allah.
Karakteristik: Tetap berkunjung meski disakiti, tetap merangkul meski ditolak, dan fokus pembicaraannya adalah tentang perbaikan umat dan kejayaan Islam.
Dampak: Membangun kekuatan jamaah yang solid untuk melakukan perubahan besar di masyarakat.
Mendapatkan cinta Allah: “Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah desa yang lain. Di tengah perjalanan, Allah mengutus malaikat-Nya. Ketika berjumpa, malaikat bertanya, “Mau kemanakah anda?” Orang tersebut menjawab, “Saya mau mengunjungi saudara di desa ini.” Malaikat bertanya, “Apakah kau ingin mendapatkan sesuatu keuntungan darinya?” Ia menjawab, “Tidak. Aku mengunjunginya hanya karena aku mencintainya karena Allah.” Malaikat pun berkata, “Sungguh utusan Allah yang diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim).
Mimbar bercahaya: Rasulullah SAW memberikan kita kabar gembira: “Sesungguhnya di sekitar arasy Allah ada mimbar-mimbar dari cahaya. Di atasnya ada satu kaum yang berpakaian cahaya. Wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukanlah para nabi dan bukan juga para syuhada. Dan para nabi dan syuhada cemburu pada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Para sahabat bertanya, “Beritahukanlah sifat mereka wahai Rasulullah. Maka Rasul saw bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bersaudara karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah.” (Hadis ini ditakhrij oleh al-Iraqi, ia mengatakan, para perawinya tsiqat).
Kewajiban Dakwah: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110). “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan dirahmati oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah [9]: 71).